Rasaku Tak Berujung ~ Bagian 4 Epilog (Jujur)



        Sebulan telah berlalu. Sekarang adalah liburan semester, masa dimana para mahasiswa berencana tuk berhibernasi setelah lelahnya berkutik dengan sibuknya kehidupan kampus. Tapi aku? aku masih selalu mencoba menyibukkan diri. Organisasi masih berjalan, dan sekarang ditambah lagi kerja part time untuk mengisi kekosongan. Permasalahanku dengan Via bulan lalu sudah kelar menurutku. Hubunganku dengan Via masih seperti biasanya, hanya saja perbedaannya sekarang aku merasa ada sedikit jarak dengannya. Aku tak terlalu mempermasalahkannya. Sedangkan hubunganku dengan Deva, ini yang menurutku belum kelar. Deva selalu menghubungiku, katanya ingin menjelaskan sesuatu. Tapi aku selalu menolak, tak ingin lagi rasanya menggubris hal ini lagi. Aku sudah tak pernah bertemu Deva lagi, tak pernah berharap ingin bertemu, dan selalu menghindar jika tidak sengaja akan berpapasan. Walaupun tak pernah bertemu, tapi Deva selalu saja berusaha untuk menghubungiku. Saat ditelpon aku tak pernah mengangkatnya, di chat aku balas dengan ala kadarnya, seolah aku ingin buat dia bosan dan menjauh.
            Hari ini hari minggu, rencana hari ini hanya satu, rapat. Rapat ini dari sore sampai malam, bahkan tak jarang sampai tengah malam. Dan pagi hari ini sampai siang hari kuhabiskan waktuku untuk sekadar membuat tulisan. Iya, aku suka menulis. Menulis apapun yang ingin aku tulis.
˚ ˚ ˚
            Aku akan berangkat ke sekre jam 6 sore. Menyiapkan beberapa hal yang diperlukan untuk rapat nantinya, berdandan sedikit agar terlihat lebih cantik, memasukkan beberapa cemilan kedalam tas untuk selingan nanti, dan setelah semuanya siap, lalu aku menunggu. Menunggu kak Vito. Kali ini motorku tak bisa kugunakan, ada masalah dan aku tak terlalu mengerti dengan permasalahan motor. Jadi aku minta tolong ke kak Vito untuk menjemputku ke kosku. Dan tak lama kemudian kak Vito datang.
“Hei, udah lama nunggu ya?” Tanya kak Vito.
“Ngga kok, santei aja.” Jawabku ringan.
“Langsung berangkat nih?” Tanya kak Vito sambil memindahkan tasnya kedepan.
“Iyalahh.” Jawabku singkat.
“Duduknya agak dimajuin dikit ya, kalo terlalu kebelakang tar malah jatuh.” Kata kak Vito dengan nada bercanda.
“Apasih, becandanya garing kali.” Jawabku singkat sambil langsung naik ke motornya.
            Jujur saja, aku nyaman jika berada disisi kak Vito. Dia orang yang perhatian. Sangat perhatian, bahkan sudah menganggapku seperti adiknya sendiri katanya. Namun aku tahu, ini hanyalah rasa perhatian hanya untuk ingin melindungiku saja.
Sekitar jam 6 lewat 15 menit kita sampai di sekre, dan jam 7 rapat baru dimulai. Kegiatanku kedepannya memang akan sering seperti ini.  Dies Natalis namanya. Inilah acara besar kampus yang tengah direncanakan. Kegiatannya berlangsunng selama sebulan kedepan. Rapat-rapat yang dilaksanakanpun tak main-main menguras waktu. Hari ini rapatku akhirnya selesai jam 12 kurang 15 menit.
“Ohh lelahlah... kita langsung balik kan?” tanyaku ke kak Vito sambil menguap
“Iyalah yuk, sebelum ketiduran disini lagi kamu.” Jawab kak Vito yang matanya sama sekali tak terlihat kantuk.
Keluar dari sekre, aku bercakap-cakap kecil dengan kak Vito. Lucu memang orangnya, suka buat candaan walau terkadang memang ga jelas. Namun, tak lama kemudian aku kaget. Aku lihat Deva didekat tangga dibawah sambil bersandar di dinding. Aku tak membalas candaan-candaan kak Vito lagi. Mataku tertuju ke Deva, dan Devapun melihatku yang sedang keluar dengan kak Vito. Deva berjalan kearahku dan menghampiriku.
“Vin, maaf, aku udah nunggu kamu dari tadi. Aku mau ngomong Vin, tolong kasi aku kesempatan, aku pengen ngelarin semuanya Vin.” Kata Deva dengan tatapan matanya yang ingin memastikanku.
Aku mematung. Merasa kaget dan ngga percaya bertemu Deva hari ini. Sedangkan kak Vito, aku rasa dia mengerti. Dia tahu ceritaku dengan Deva, karena dulu sempat aku ceritakan dengannya.
“Aku mau pulang Dev, sama temenku.” Jawabku pelan
“Bentar aja Vin, kali ini aja, aku udah nunggu kamu lama dari tadi cuma biar bisa ngomong langsung sama kamu, yah?”
“Yaudah, kamu ngomong aja dulu sana Vin, nanti kamu langsung pulang sama dia aja ya.” Kata kak Vito menengahi kita.
            Malam itu akhirnya aku dan Deva duduk sambil pesen 2 mangkok bakso di pedagang bakso dengan gerobak yang masih jualan deket sekre. Kita sekarang memang sedikit canggung, ngga seperti dulu lagi.
“Gimana kabarmu sekarang Vin?” Deva mencoba buka basa basi.
“Baik.” Jawabku singkat.
“Tadii...itu pacarmu ya Vin?”
“Ngga kok, kenapa?”
“Ngga, aku kira dia pacarmu sekarang.” Jawab Deva
“Ngomong-ngomong kamu kenapa sih Dev? Sampe nungguin aku selarut ini, emang mau ngomong apa?” tanyaku tanpa basa basi lagi.
Deva terdiam sebentar, mungkin dia sedang merangkai kata-kata pikirku.
“Aku yang harusnya nanya kamu Vin, emang kamu kenapa sih Vin? Terakhir kali pas hujan-hujanan kamu sendiri yang bilang kamu ada rasa ke aku, tapi sekarang kok malah gini? Kamu tiba-tiba ngilang Vin, kamu selalu ngindar dari aku. Kamu mungkin nganggep masalah kita udah selesai ya? Tapi aku ngga Vin. Aku ngga bisa kalo kayak gini, ga ada kepastian. Aku pengen kita selesaiin bareng-bareng sekarang Vin, biar perasaanku juga jadi kelar.” Jawab Deva panjang dengan rangkain panjang kata-katanya.
“Kepastian apa lagi Dev? Udah, udah selesei udah, aku gatau harus jelasin apa Dev.” Jawabku dengan kebingungan.
“Jujur aja aku suka sama kamu Vin.” Jawab Deva dengan skak mat.
“Dulu kamu bilang kamu suka sama aku, dan sekarang aku sama Vin. Entah kenapa juga, aku ngerasa aku nyaman sama kamu, bahkan dulu, aku ngerasa lebih nyaman sama kamu daripada sama Via waktu pacaran sama Via. Dan sekarang aku mau mastiin ini semua Vin. Kalau-kalau bisa, kalau-kalau perasaan kamu masih berlaku buat aku, kamu mau jadi pacar aku Vin?”
Aku kaget dengan penjelasannya dan pertanyaannya diujung kalimatnya. Entah dari kapan kantukku jadi hilang. Aku terfokus dengan kata-katanya. Aku berhenti memakan baksoku. Bingung dengan jawaban apa yang harus aku berikan. Aku memang menyukainya dari dulu. Tapi, aku coba tuk memberikannya jawaban terbaik menurutku.
“Dulu aku memang menyukaimu Dev. Bahkan jujur saja, sekarang akupun masih menyukaimu.” Jawabku sepenggal dengan kalimat itu. Kulihat dia seperti mendapat harapan.
Jadi kamu mau Vin?” tanya Deva memastikan.
“Tapi bentar dulu Dev, rasaku ke kamu memang masih Dev. Aku memang tipe orang yang kalo memang udah suka ya suka, ga bakalan bisa buat ngilangin perasaan yang udah terlanjur tumbuh. Rasaku buat kamu memang ngga berujung Dev, bahkan sekarangpun jujur aja perasaanku masih ke kamu. Tapii... buat jadi pacar kamu, maaf aku menolak dulu Dev.”
“Kenapa gitu Vin? Alasannya? Kalau udah suka, yaudah, apalagi alasan kamu buat nolak?” Tanya Deva, dia terlihat kebingungan dengan jawabanku.
“Alasannya satu Dev, aku belum bisa percaya. Aku dari dulu memang belum pernah pacaran Dev, satu alasan yang buat aku kayak gini, belum ada orang yang bisa buat aku bener-bener percaya. Aku belum siap buat jalanin hubungan Dev, aku belum siap sakit, aku ngga mau nyakitin perasaanku nantinya. Maaf Dev.” Jawabku mencoba membuat Deva mengerti.
“Termasuk aku Vin? Aku termasuk orang yang ngga bisa kamu percayain juga? Kamu bisa kok naruh kepercayaan ke aku, aku ga bakalan nyakitin kamu Vin.” Jawab Deva dengan sedikit meninggikan nada bicaranya.
“Iya, aku belum bisa Dev. Jujur, aku memang belum mau naruh kepercayaan ke cowok. Dulu waktu kamu pacaran sama Via aja kamu masih bisa berpaling ke aku. Aku tau kita salah waktu itu Dev. Aku tau gimana perasaan Via waktu itu, dan aku ngerasa bersalah banget ke dia. Aku harap kamu ngerti Dev.”
“Hmmm,,, ”  Deva menghela napas.
“Iya udah Vin, kalo emang jawabanmu gitu, iya aku coba terima.” Jawab Deva dengan wajah yang muram.
“Dev?” tanyaku sambil melihat wajahnya.
“Hmm... berarti aku anggap ini udah kelar ya Vin. Makasi udah mau kasi aku kesempatan buat ngomong dan nanyain langsung, ngejelasin semuanya, oke berarti kelar udah ya Vin.” Jawab Deva sambil tersenyum simpul mencoba tuk menerima.
“Maaf ya Dev, dan makasi juga. Rasa sukaku ke kamu emang ngga mudah buatku hapus, ga ada ujungnya emang Dev. Tapi aku tau, rasa suka ngga harus membuat kita memilikinya. Aku hanya ngga mau menjalin hubungan dengan ketidaksiapan Dev, untuk saat ini, untuk saat ini aku hanya belum siap.”
“Iyah, aku paham Vin, aku ga maksa kok, santei aja hahah, kita masih bisa temenan kok, kamu ga harus ngindar terus” jawab Deva sambil tertawa.
            Percakapan kita dini hari itu selesai kira-kira pukul 1 dini hari. Deva mengantarku pulang ke kosku. Dini hari itu, aku benar-benar merasa lega. Merasa sudah tak ada beban, dan tak ada masalah lagi dengan Deva. Salahku memang yang selalu menutup diri, menghindar dari Deva. Ternyata aku salah. Seperti ini ternyata lebih baik. Bicara jujur, ungkapkan semua yang mau dan yang seharusnya diungkapkan. Tak perlu disembunyikan, perasaan memang tak bisa diajak main petak umpet, haha. Dan satu lagi, walaupun suka, kita tak harus memiliki. Aku tahu, suka ku ke Deva memang sudah terlanjur tumbuh, dan tak bisa kuhilangkan begitu saja. Namun aku rasa begini saja sudah cukup. Menjadi temannya, bisa dekat dengannya, itu sudah cukup. Terimakasih semesta. Jikalau hati ini memang sudah siap, dan apabila kuyakin dia adalah orang yang benar-benar tepat, pintu hati pasti akan kubuka suatu saat nanti.

~The End~

Komentar