Rasaku Tak Berujung ~ Bagian 2 (Gelayut Harapan, Putus)


       Aku terkejut, handphone ku tiba-tiba saja berdering. Nyatanya Deva menelponku via line. Ini pertama kalinya Deva menelponku, aku bingung entah dengan maksud apa Ia menelponku. Akupun segera mengangkatnya.
“Hallo Dev”, sapaku pelan penuh penasaran.
“Hallo Vin, emm sekarang malam minggu, kamu free?”
Aku tertegun, what? apa maksud bocah ini menanyakan aku free apa ngga dimalam minggu, gumamku.
“Aku masih ada tugas askep sih, emang kenapa Dev? Kok tumben hehe.” jawabku pura-pura santai.
“Ohhh gitu, emm tapi sorry nih, kalau aku ajak kamu nongkrong bentar bisa Vin?”
Aku kaget sekaget kagetnya. Seorang cowok yang aku suka dari dulu ini tiba-tiba saja ngajak aku nongkrong? Mimpi apa aku semalam? Aku masih tak bisa menjawab, karena jujur aku gugup tuk menjawab lagi.
“Gimana, bisa Vin?” tanya Deva lagi.
“Iya bisa bisa Dev” jawabku dengan cepat, entah mungkin karena saking senangnya.
“Bagusdeh, aku tunggu jam 7 malem di 9/11 cafe ya Vin”.
“Oke Dev”.
            Malam ini aku senang sejadi-jadinya. Aku prepare dan jam setengah 7 langsung berangkat agar sampai sana jam 7. Sampainya aku disana, aku langsung cari Deva, dan ga lama aku lihat Deva duduk ditempat paling pojok udah nungguin aku.
“Hey Dev, udah lama?” sapa ku. “Oh ngga, baru aja” jawabnya.
Kita ngobrol basa-basi disana, nanya hal-hal kecil, rutinitas kegiatan dikampus. Aku senang lihat cara bicaranya Deva, sering mata ini menatap lamat-lamat mata yang penuh binar dan dengan gaya bicaranya yang santai. Tapi, baru ngobrol sekitar 20 menitan, Deva tiba-tiba saja membuka pembicaraan baru. Dia beralih untuk membicarakan Via. Aku menunduk, dan berpikir ternyata ini maksud dia mengajakku tuk bertemu. Ah sial, gumamku. Dia menanyakan kabar Via lagi, akupun melihatnya lagi dan menyuguhkan senyum tipis yang sebenarnya itu hayalah fake smile. Topik kita seterusnya hanyalah tentang Via, banyak yang Deva tanyakan. Mulai dari sejak kapan aku kenal Via, apa ada cowok yang lagi deket dengan Via, hal apa yang disukai dan yang nggak disukai Via, kriteria cowok yang Via cari seperti apa, kebiasaan Via, ahh dan banyak lagi lainnya. Hingga akhirnya dia minta kontak Via dariku, dan katanya dia akan coba mulai menghubunginya besok, rencana pdkt ceritanya. Ok fine, aku bosan disini, keluhku dalam hati.
            Hingga pukul setengah 11 aku menyudahi pembicaraanku dengan Deva, walaupun aku senang karena sedang ngobrol dengan orang yang aku suka, tapi sayang aku tak suka dengan topiknya. Kata-kata terakhir sebelum pulang Deva berterimakasih denganku. Oh sungguh aku membantu orang tapi aku menyakiti diriku sendiri, malang diriku. Aku pulang dengan kekesalan. Mood ku berantakan. Sesampainya dikos aku langsung tidur tanpa pikir apapun lagi, tanpa memikirkan tugas askep yang harus dikumpul lusa.
            Sinar matahari sudah mulai memasuki kamarku dari celah-celah jendela. Aku langsung terbangun dan melihat jam di handphone ku yang nyatanya sekarang sudah pukul 08.45. aku ada kelas praktek hari ini pukul 09.00. “Ahh sial, aku telattt” teriakku dan langsung bergegas ke kamar mandi. Tak perlu waktu lama, aku tak perlu habiskan waktu tuk mandi, aku hanya gosok gigi, cuci muka, mengganti baju, memasukkan binder, dompet, hanya memakai lipstik dan sedikit polesan bedak. Pukul 08.53 aku langsung berangkat secepatnya, dan jarak dari kos ke kampus kurang lebih hanya 10 menit. Hingga akhirnya pukul 09.05 aku sampai dengan napas ngos-ngosan.
“Aduhh dasar si tukang telatt baru dateng, begadangin askep yah kemarin ?” sapa pagi si Via.
“Hehe iyaa” jawabku singkat.
“Eh aku ada topik nih, tar abis ini mampir bentar yuk aku mau cerita hehe” ajakan si Via dengan gayanya yang kawaii.
Karena aku yang ngga enak buat nolak, dan karena kita juga emang sering ngobrol bareng jadi ajakannya dia aku iyakan, padahal aku sudah tahu topik pembicaraannya.
            Kelas praktikum akhirnya selesai, aku sama Via langsung bergegas ke tempat yang biasanya kita buat nongkrong. Sampai disana sesudah pesan ini itu, dia mulai cerita.
“Eh kamu tau kan si Deva anak Hukum yang terkenal di gugus kita dulu itu?” Tanya Via dengan semangatnya.
“Oh iya taulah, kenapa emangnya kok tiba-tiba nanya dia?” tanyaku pura-pura bodoh.
“Dia chat aku loh pagi ini, say hello, basa-basi nanya ini itu, kok bisa yaa?” tanyanya lagi sambil membuka line di hp-nya.
Via langsung menyodorkan hp-nya ke aku untuk membaca chat mereka tadi pagi tanpa aku minta. Aku kaget, ternyata sepercaya ini dia denganku. Aku langsung membaca chat mereka yang lumayan panjang itu.
“Vi, tapi kok aneh yaa. Respon kamu kok kayak cuek gitu bales chat nya Deva?” tanyaku penasaran.
“Hehe, ya kamu tahulah, Deva kan emang bukan tipe ku kali. Cowok yang terlalu kalem kayak gitu, terlalu polos, lugu, hehehe. Males aku ngerespon dia.” Jawabnya sambil tertewa.
            Aku kaget, tapi dengan sedikit rasa senang dan lega. Nyatanya si Via ini tak suka Deva. Oh biar sajalah, jadi biar saja aku yang dekat dengannya, ujarku dalam hati.
˚ ˚ ˚
Hari demi hari, Deva masih juga sering chat denganku, telpun denganku, dan sesekali kita ketemu buat ngobrol, walau biasanya tempatnya hanya sekadar di tamnet saja. Aku tetap dan selalu suka dengan gaya bicaranya Deva, pemikirannya luas, buatku luluh dengan cowok yang seperti Deva. Walaupun kadang disetiap pembicaraan dia selalu menyelipkan topik tentang Via aku selalu sabar menghadapinya, karena jujur saja aku tak suka. Tapi aku bertahan, karena apa? Tentu karena Deva, tak apa dia bertanya tentang Via, yang jelas aku suka komunikasi kita jadi lebih intens.
Satu hal yang tak pernah aku pikirkan, ternyata Deva selama sebulan ini dia masih chat dengan Via, dan bahkan sekali duakali pernah mengajak Via keluar atau makan bareng. Aku tahu ini dari Via, seakan-akan aku menjadi tempat cerita bagi mereka berdua. Remuk rasanya. Sakit. Ah entah aku tak bisa gambarkan lagi. Aku tak kuat lagi. Aku memang merasa sudah semakin dekat dengan Deva, tapi diluar dugaanku Deva nyatanya juga semakin dengan Via, dan Deva tak pernah mengatakan hal ini padaku. Aneh saja mengapa mereka bisa menjadi dekat, bukankah dulunya Via bilang tak suka Deva? Aku seketika benci, benci tapi masih saja memakai topeng wajah dengan senyum.
Suatu hari selesai kelas, Deva mengajakku tuk bertemu lagi di tamnet seperti biasanya. Aku iyakan karena selain itu tujuanku memang ke tamnet tuk kerjakan tugas. Tepat jam 6 sore Deva datang.
“Buk perawat ni aku bawain minum hehe.” Candanya sambil menyodorkan minum untukku.
“Wahh tumben, thank you.” Jawabku singkat dengan mata masih fokus dilayar laptop.
“Vin?”
“Kenapa Dev?”
“Aku mau nembak Via, menurutmu?”
            Seketika aku berhenti meminum jus yang Deva bawa itu. Deva dengan wajah bahagianya. Aku dengan mataku yang seolah kosong. Pupus rasanya. Aku terdiam, masih termangu di depan laptop tak dapat berkata apa.
“We kok diem aja sih? Pasti kaget kan? hehe. Via yang awalnya cuek gitu nyatanya sekarang dia ga cuek-cuek banget ke aku, dan karena aku sekarang udah ngerasa lebih deket gitu sama Via, maunya besok aku langsung tancap gas deh hehe, aku percaya dia pasti bakal terima.” Kata Deva dengan penuh kepastian.
Aku perlahan senyum, “wahh sebulan perjuangan yah, moga diterima yaa.” Kataku dengan penuh kemunafikan. Tak rela sebenarnya. Tapi terpaksa merelakan.
            Lusa Via cerita ke aku. Sudah kutebak apa topik bahasannya. Iya, mereka jadian. Aku hanya pasrah. Muak sebenarnya mendengar celoteh mereka berdua yang seolah menampung semuanya ke aku. Aku hanya bisa pasrah. Aku takkan pernah lagi gantungkan gelayut harapan, menyakitkan. Aku benar-benar belajar tuk berlapang dada, ikhlas, sabar, pasrah, dan berdamai.
• • •

Komentar