Rasaku Tak Berujung ~ Bagian 3 (Tuhan Memang Usil)
Waktu
terus bergerak, tapi aku masih saja terdiam duduk di halte menunggu bus datang.
Aku tak berangkat kuliah dengan motorku kali ini, musim penghujan buatku lebih
memilih untuk naik bus. Tak lama kemudian bus pun datang. Aku segera naik, dan
seperti biasa aku lebih memilih duduk di tempat samping jendela dan menikmati
pagiku dengan hujan. Aku menyukai hujan. Jika kalian bertanya hujan disaat
kapan yang aku suka, pagi, siang, sore, malam, atau dini hari? Aku kan menjawab
pagi hari. Menyukai hujan di pagi hari diluar permasalahan harus berangkat
kuliah. Hujan pagi hari itu menenangkan, walaupun harus mengorbankan sinar
mentari pagi yang tak muncul.
Akhir-akhir ini aku sudah merasa
damai, ya karena aku sudah mampu berdamai dengan semuanya. Aku sudah mulai
jarang chat dengan Deva, tapi aku masih setia mendengar cerita Deva dari Via. Mereka
sudah pacaran 3 bulan, sudah terlihat lebih dekat memang. Karena hal ini, aku
benar-benar menutup perasaanku, malas rasanya mempermasalahkan perasaan, rumit.
Malam
ini tak seperti biasanya yang selalu menghujan. Ditengah kesibukan kuliah,
ingin rasanya aku keluar tuk menghibur diri. Aku langsung prepare, dan jam 8 malam aku keluar, sendiri. Bukan tak punya
teman, tapi jujur aku hanya perlu me time.
Aku pergi kesebuah mall. Berkeliling sebentar membeli ini itu yang kumau,
khususnya aksesoris. Hingga selanjutnya kuberniat tuk habiskan waktu di salah
satu cafe di mall ini. Aku duduk dengan menikmati secangkir kopi sambil menikmati
indahnya malam dingin dikala hujan yang mereda, dan satu lagi tentunya sambil membaca
buku. Berselang 30 menit, disela kenikmatanku dengan kopi dan buku, ada seorang
cowok yang datang menghampiriku. Nyatanya, Deva. Aku kaget, terdiam, sudah lama
rasanya aku tak bertemu Deva. Hingga kali ini, apa maksud semua kebetulan ini
hingga Tuhan membuatku bertemu Deva disini.
“Ga baik cewek cantik nongkrong sendiri,
ngenesnya jangan diliatin kesemua orang dong.” Candaan Deva yang tiba-tiba
datang dan langsung duduk didepanku.
Aku kaget, tentunya aku kaget. Aku tak
bisa melempar jawaban dengan hal yang tiba tiba.
“Deva? Kok, di.. si.. ni?” Tanyaku dengan
pelan.
“Emang kenapa? Semua orang boleh kesini
kali Vin hehe, tapi sumpah ini kebetulan banget kita bisa ketemu disini. Udah
lama kita ga ketemu, aku liat kamu sendiri tadi disini jadi yaa kusamperin deh.”
Jawabnya dengan penuh santai.
“Via.. kok ngga sama Via?” tanyaku lagi.
“Me
time hehe, lagi pengen sendiri aja, si Via juga tadi bilang dia lagi sibuk,
jadi yaaudah.” Jawab Deva.
Tuhan memang usil. Kebetulan macam apa ini, kita
yang sama-sama ingin me time ini juga
kebetulan? Oke Vin kamu hanya perlu teguhkan hati, jangan buat diri kamu baper
dengan cowok pacar temenmu sendiri, jangan jadi cewek jahat, gumamku dalam
hati. Kitapun akhirnya ngobrol santai sebentar, dan tak lama kemudian handphone Deva berdering, karena handphone nya dia letakkan di atas meja,
jadi aku tau itu sebuah panggilan Line dari Via. Deva segera mengangkatnya.
“Emm bentar yah.” Ucap Deva padaku. Aku
menyilahkannya.
“Hallo, kenapa Vi?” tanya Deva via handphone.
“Kamu
jadi keluar Dev?” tanya Via
Aku mendengar percakapan mereka, karena
suara Viapun masih bisa aku dengar.
“Iya, jadi Vi.” Jawab Deva.
“Serius
sendiri?” tanya Via lagi.
“Iyaa
seriuss.”
Oshhh,, Deva tak ada mengatakan kalau
dia sedang bersamaku saat ini. Aku tak tau mengapa Deva ngga bilang. Apakah ini
akan baik-baik saja? Pikirku.
Kita
ngobrol banyak malam itu, dan tentunya tak seperti saat dulu. Kali ini Deva tak
ada sedikitpun membahas Via. Aku menikmati malam ini walaupun sebenarnya aku
rada takut, dan aku pikir bukankah aku salah saat ini? bersama cowok pacar
temenku, berdua, walaupun ini hanyalah sebuah kebetulan. Tapi aku tetap tak
menyudahi pertemuan yang kebetulan ini.
Aku terlalu hanyut
dengan situasi indah saat ini, hingga aku berpikir ini hanyalah kebetulan, jadi
tak ada yang perlu disalahkan. Deva mengajakku jalan-jalan kesekeliling mall
itu, dan mengajakku ke tempat games. Hanya
ingin bersenang-senang katanya. Kita bermain beberapa games disana. Me time ku,
me time Deva, berubah karena
kebetulan ini. Hingga jam 23.15 kita pun berpisah setelah menghabiskan waktu di
tempat permainan. Sungguh, perasaan ini tumbuh lagi. Aku baper lagi. Via
maafkan perbuatanku malam ini.
˚ ˚ ˚
Aku
bangun pagi hari ini, karena kejadian semalam aku serasa diberi vitamin
rasanya. Aku bergegas berangkat ke kampus. Sinar mentari mulai muncul dengan
malu-malu, cukup menghangatkan dan bercampur dengan sejuknya sisa hujan dini
hari tadi. Sampai di kelas aku lihat Via sudah sampai lebih dulu dan sedang sibuk
dengan handphone nya.
“Ohayouu
cantikk.” Sapaku dengan candaan semangatku.
“Pagi.” Jawab Via dengan singkat dan
wajahnya yang terlihat muram, lagi bad
mood kali ya, pikirku.
Tak lama kemudian dosen datang. Semua senyap,
serius mendengar penjelasan dosen, dan satu dua orang menyempatkan diri tuk
bertanya. Selesai kelas aku berniat untuk langsung bergegas pergi ke sekre BEM
untuk membahas beberapa proker, iya aku tergabung di organisasi BEM di
universitasku. Setelah memasukkan semua buku, aku berdiri, baru saja selangkah
berjalan tangan Via menarik lenganku.
“Aku mau ngomong.” Kata Via dengan nada
tak bersahabat. Dia membawaku keluar dan berhenti didekat tangga.
“Jadi gini ya, hari ini sesemanget ini
karena kemarin habis seneng-seneng, iya?” ucap Via dengan emosi tinggi sambil
memperlihatkan fotoku dengan Deva yang sedang duduk berdua di cafe kemarin
lewat handphone nya. Aku kaget,
jantungku berdegup kencang, dan lagi-lagi diri ini tak mampu tuk berkata. Aku tak
tahu siapa yang usil mengambil foto aku dan Deva kemarin malam.
“Kalau mau seneng-seneng jangan sama
cowok orang dong.” Ucapnya lagi dengan nada yang masih tinggi.”
“Itu, itu kita cuma ga sengaja ketemu
aja kemarin Vii, kamu jangan langsung ambil kesimpulan gitu dong.” Jawabku berharap
Via mengerti.
Via diam. Terlihat wajahnya masih dengan campuran
emosi, lalu dia pergi begitu saja tanpa jawab apapun lagi. Yang kutahu Via memang
bukan tipe orang yang mau ribut ditempat umum, tak mau ribut dengan bertengkar
suara, tapi Via memang tipe orang yang akan memendam semua kebenciannya.
Fix, Via marah denganku. Iya aku
salah, harusnya aku tak bersenang-senang malam itu. Walaupun itu nyatanya
memang kebetulan, harusnya aku menyudahi kebetulan itu. Karena nyatanya jika
aku berada di posisi Via tentu aku akan merasa tak terima semua ini, wajar Via
marah, pikirku. Saat Via menelepon Deva, aneh juga Deva tak mengatakan yang
sebenarnya kalau dia sedang bersamaku saat itu. Ahh kacau rasanya, serba salah
dan memang aku dan Deva salah. Aku segera minta maaf ke Via dan menjelaskan
panjang lebar via chat Line, tapi Via hanya membaca chat ku tanpa dia balas.
Hari
ini aku kacau, tapi aku harus tetap juga datang rapat ke sekre karena aku
mempunyai posisi penting disana. Aku datang telat, dan mencoba memperlihatkan
wajah baik-baikku ke semua orang walaupun faktanya aku jauh dari kata baik-baik
saja. Rapat kali ini cukup lama, dan sangat amat sangat melelahkan dengan
pikiran yang selalu terfokus ke masalahku hari ini. Sore ini hujan, mulai turun
dari jam 5 sore tadi, dan sampai sekarang rapat selesai jam 6 hujanpun masih
juga mengguyur lebat. Orang-orang masih bertahan didalam sekre, ngobrol ringan
setelah rapat sambil menunggu hujan reda. Tapi aku dengan cepat bergegas
keluar.
“Balik Vin?” tanya Kak Vito, salah satu
kakak di organisasi ini yang selalu care
denganku.
“Iya kak, aku cepet-cepetan.” Jawabku cepat.
“Hujan deres lho.” Kak Vito melihatku
heran.
“Iya ga masalah, duluan yah.” Aku langsung
keluar dan menuju parkiran dengan hujan-hujanan. Kak Vito ternyata mengejarku.
“Vin kamu ga bawa jas hujan? Pakai punyaku
dulu aja ni Vin, ntar sakit lagi.” Tawaran Kak Vito sambil membawa jas hujan
namun dia tak sampai menghampiriku keparkiran.
“Untuk kali ini aku mau hujan-hujanan
kak, udah lama ga seneng-seneng sama hujan. Btw makasii ya, duluann.” Aku langsung
tancap gas tanpa menunggu jawaban Kak Vito.
Dilihat
aneh memang oleh orang-orang karena hanya aku yang menerobos jalan dengan basah
kuyup tanpa jas hujan. Tak apa, segila ini yang kulakukan sekarang. Aku hanya
ingin membebaskan diriku, tanpa batas tanpa batasan. Aku hanya ingin menikmati
hujan kali ini karena menangispun tak kan ada orang yang tahu, ditolong oleh
hujan, air matakku tak terlihat karena bercampur hujan.
Aku
menangis sambil mengendarai motorku, dan berpikir mengapa perasaan itu rumit? Mengapa
aku bisa menyukainya? Aku menyakiti temanku sendiri karena perasaan ini,
sebersalah inilah aku sekarang. Tapi aku menyukainya, aku benar-benar tak bisa
menyangkalnya Tuhan. Aku menyukainya.
Hujan semakin deras di
sore menuju malam ini, dan aku semakin menjadi-jadi ingin menerobosnya. Sampai di
belokan jalan yang sudah rada sepi pengendara, aku berniat belok kanan tapi
sayang jalan saat itu begitu licin aku hilang kendali, motorku terjatuh. Aku terjatuh
sendiri. Tak ada yang menolong, karena jalan disini memang sepi. Aku berusaha
bangun, tak ada luka serius hanya goresan kecil pada kakiku. Diarah yang
berlawanan dariku kulihat ada pengendara sepertinya seorang lelaki dari kejauhan
lengkap dengan jas hujannya. Tak terlalu kuperhatikan aku masih berusaha tuk
bangkit dengan motorku. Namun baru aku sadari, saat lelaki itu mendekat dan
mulai menghampiriku, ternyata itu Deva. Kebetulan macam apa lagi ini Tuhan? Apakah
ini benar-benar kebetulan atau malah kesengajaan? Pikirku.
“Viyann, astaga Vin kok hujan-hujanan
gini? Kamu baik-baik aja? Kenapa bisa jatuh Vinn?” tanya Deva sambil mencoba menolongku
dan memegang lenganku.
“Udahh Devv, apa pedulimu denganku?”
jawabku ketus penuh emosi dengan nada tinggi sambil menghempaskan tangannya
yang memegang lenganku. Aku tak tahu dari mana datangnya emosi ini, yang
kupikir aku hanya ingin meluapkannya.
“Kamu kenapa Vinnn?” tanya Deva lagi. Aku
terdiam sesaat, namun kemudian aku mencoba meluapkan semuanya.
“Aku ngga tau siapa yang harus
disalahkan Devv. Apa aku yang selama ini salah? Atau kamu? Dulu aku hanya
berada dibatasan sebagai pengagummu saja Dev, aku ngga pernah berharap lebih. Tapi
semua berubah ketika kamu mulai mencoba dekat denganku, sering bertemu denganku
walaupun hanya untuk membahas Via. Jujur aku seneng deket sama kamu Dev, tapi
aku hancur ketika tau kamu yang nyatanya lebih menyukai Via. Aku sudah mulai
berdamai dengan semuanya ketika kalian berdua mulai pacaran, tapi Tuhan usil dengan segala kebetulan yang terjadi kemarin dan kenapa kamu
malah memunculkan perasaan lamaku Dev? Aku tak bisa menghindar saat itu
karena nyatanya aku memang senang saat sama kamu Dev. Aku marahan dengan Via
karena masalah ini. Aku jahat Dev. Aku tau aku salah, tapi aku ga bisa nyalahin
perasaanku yang udah terlanjur tumbuh dari dulu. Aku tau aku emang bener-bener salah ke Via karena kemarin malem.” Jawabku
panjang, dengan nada tinggi agar Deva bisa denger jelas ditengah guyuran hujan.
Deva hanya bisa diam. Dia
kaget. Dia baru menyadari akan perasaanku yang ingin lebih dari sekadar temen
curhat. Akupun kemudian mencoba menghidupkan motorku dan langsung pergi
ninggalin Deva disana.
duhh menguras emosi ceritanya.. jadi kebawa suasana kan
BalasHapusWahh hehe, santuy mbak :D
BalasHapus